Apa Bahan Dasar dalam Disinfektan?

Sebagian orang kerap menggunakan istilah antiseptik dan desinfektan secara bergantian, padahal keduanya memiliki fungsi berbeda. Foto: WAHYU PUTRO A/ANTARA FOTO

Bandung, Talamedia.id – Wabah virus corona yang melanda dunia, termasuk Indonesia saat ini, masyarakat ramai-ramai menginginkan penyemprotan disinfektan. Hal tersebut sebagai salah satu cara menjaga diri dan lingkungan tempat tinggal. Selain membeli, masayarakat juga bisa membuat cairan disinfektan secara mandiri di rumah. 

Melansir dari kompas.com, cairan disinfektan bisa dibuat dengan campuran cairan pemutih pakaian atau pembersih lantai. Hal tersebut disampaikan oleh Peneliti Kimia dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Dr. Joddy Arya Laksamono, Sabtu (21/03).

“Berdasarkan anjuran dari WHO, bahwa bahan-bahan yang dapat digunakan sebagai desinfektan adalah etanol dan sodium hipoklorit (pemutih). Kebanyakan larutan bahan pemutih rumah tangga mengandung 5 persen sodium hipoklorit (50000 bpja klorin),” kata Joddy.



Joddy menyebutkan, cairan pemutih pakaian merupakan bahan yang paling kuat dan efektif. Akan tetapi, bahan ini mudah dinonaktifkan jika terdapat bahan organik. Bahan aktif yang ada di dalam cairan pemutih yaitu sodium hipoklorit yang memiliki beragam fungsi. “Efektif membunuh bakteri, jamur, dan virus, termasuk virus influenza,” tambah dia.

Joddy menuturkan cairan pemutih pakaian yang biasa digunakan sehari-hari bisa dilarutkan dengan air biasa dengan perbandingan 1:100. “Anjuran dari WHO seperti berikut, pengenceran 5 persen sodium hipoklorit dengan perbandingan 1:100 biasa dianjurkan. Gunakan 1 bagian bahan pemutih untuk 99 bagian air ledeng dingin (pengenceran 1:100) untuk disinfeksi permukaan,” imbuhnya.

Disinfektan adalah bahan kimia yang digunakan untuk mencegah terjadinya infeksi atau obat untuk membasmi kuman penyakit.

Tak hanya menggunakan bahan kimia, dilansir dari cnbc.com, Arif Sumantri, Ketua Umum Himpunan Ahli Kesehatan Lingkungan Indonesia (HAKLI) sekaligus Ketua Komite Ahli PMKL Kemenkes RI mengungkapkan opsi bahan lain untuk campuran disinfektan.

“Masyarakat dapat memanfaatkan desinfektan alami seperti daun sirih yang juga bisa sebagai antiseptik, dan juga cuka,” ujar Arif dalam siaran konferensi pers lewat streaming Youtube BNPB Indonesia. 

Arif juga mengingatkan masyarakat untuk memperhatikan ukuran, dosis, dan konsentrasi. Hal itu penting agar sesuai dan tidak menimbulkan resistensi (perlawanan dari mikroorganisme). Ia juga mengimbau masyarakat untuk menggunakan masker dan sarung tangan ketika penyemprotan.

Ia menekankan ada hal yang lebih penting yang harus dilakukan masyarakat selain disinfektasi, yakni melakukan upaya sanitasi yang baik agar tidak sia-sia. Salah satunya dengan cuci tangan dengan sabun dan air yang mengalir.

(mfd/pal)