Filmmaking Class: Merilis Kelas Film Buruan Manglayang

Foto : Istimewa

Bandung, Talamedia.id — Jumat lalu (1/11), di gerai kopi Buruan Manglayang, Cileunyi Kulon, Kabupaten Bandung, kelas film Buruan Manglayang resmi dirilis oleh beberapa dokumenteris seperti Yuslam Fikri Ansari (Komunitas Perfilman Intertekstual), Esa Hari Akbar (Kota Sinema), turut hadir Agung Laksono (Talamedia), datang pula beberapa kawan dari LBH Bandung, Blue Hikers Unpad, dan Trifantasia Indonesia.

Kelas film tersebut adalah wadah kreatif bagi siapa saja, baik awam atau berpengalaman, untuk bertukar pengetahuan dan belajar bersama memproduksi film, terutama film dokumenter.

“Sejak awal saya dengan Esa, dengan Agung, dan beberapa kawan di sini, sebenarnya membutuhkan ruang-ruang berbagi. Berbagi pengetahuan, referensi, atau berbagi pengalaman,” papar Yufik, sapaan akrab Yuslam Fikri Ansari, ketika ditemui pada acara Filmmaking Class, Jumat (1/11) di Buruan Manglayang.

Pada kelas Jumat lalu, Esa Hari Akbar, dosen mata kuliah film di ISBI Bandung, Unpad, Unpas, dan beberapa universitas lainnya, menjadi pemateri yang mewedarkan sejarah film dan sinematografi secara ringkas kepada sekitar 15 orang yang hadir dalam pertemuan perdana tersebut.

Ditemani gelas kopi dan dua piring gorengan hangat, peserta tampak sungguh mengikuti acara hingga habis. Di penghujung acara semua peserta mufakat menjadi angkatan pertama kelas film Buruan Manglayang.

Meruncingkan Kesadaran Visual

Kelas film Buruan Manglayang merupakan turunan dari Reboan, kegiatan yang rutin diadakan di Gerai Buruan Manglayang tiap Rabu. Di Reboan, biasanya ditampilkan aneka acara dengan isu yang juga beragam. Pemutaran film atau bedah film adalah satu di antaranya.

“Setiap Rabu, kami biasanya membikin acara mimbar bebas di sini (Gerai Buruan Manglayang). Salah satunya pemutaran film atau bedah film […] hampir satu tahun kami mengadakan Reboan. Dalam perjalanannya, beberapa kawan memberikan masukan untuk membuat kelas yang lebih khusus, lebih tematis.

Akhirnya, saya mendapatkan teman, yakni Esa, seorang film maker, juga seorang dosen. Bagaimanapun, kelas ini berlangsung atas ‘kemuliaannya’, karena Esa dengan suka rela bersedia berbagi pengetahuan dan pengalamannya,” terang Yufik.

Sementara itu, Esa yang masih aktif memproduksi film dokumenter, mengaku tidak pernah menempuh pendidikan formal perfilman. Ia mengambil kuliah Teater di ISBI Bandung, lalu melanjutkan studi pascasarjana Penciptaan Karya di kampus yang sama.

Meski demikian, beberapa film dokumenternya mendapat penghargaan dari dalam maupun luar negeri. Film Sihung/Canine (2016), misalnya, dianugerahi penghargaan di Taiwan International Documentary Festival 2018. Sementara film “Hong” keluar sebagai Best Documentary pada Eagle Award tahun 2010.

Bulan lalu, Yufik dan Esa turut mendeklarasikan Asosiasi Dokumenteris Nusantara (ADN) di kampus ISBI Bandung. Esa menjadi ketua Korda ADN daerah Bandung. Berkaitan dengan itu, tampaknya kelas film Buruan Manglayang dapat pula diintip sebagai upaya pengenalan film dokumenter pada lapisan yang lebih umum, meski itu bukanlah suatu tujuan tunggal.

Yang terpenting bagi Esa, kelas film ini dapat menjadi semacam stimulus untuk saling membangun kesadaran visual di antara para peserta. Setiap orang diharapkan dapat mengasah kepekaan ketika mengamati sebuah peristiwa dalam kerangka pikir yang sinematografis.

“Jika kelas ini akan digiring pada wilayah produksi, itupun sederhana saja, kita bisa berangkat dari barang yang kita miliki […] kita punya alat HP yang bisa merekam, ya, kita manfaatkan. Tapi, bagaimana akhirnya, jika kesadaran visual itu sudah terbangun, sehingga alat apapun yang kita miliki bisa jadi optimal,” tutur Esa.



Esa yakin, kepekaan visual menjadi modal penting bagi siapa pun yang hendak membuat film. Penguasaan teknik, serta kepiawaian penggunaan alat memang merupakan kebutuhan dalam proses pembuatan film, namun hal itu akan lebih optimal bila seorang penggarap memiliki kepekaan visual.

Kelompok-kelompok belajar, seperti kelas film Buruan Manglayang, bisa menjadi “ruang eram” untuk pembentukan kesadaran visual. Kesadaran atau kepekaan visual merupakan potensi yang butuh diasah dengan belajar bersama, saling berdebat, bertukar wawasan atau referensi. Ujungnya, kelas film Buruan Manglayang pun akan mengarah pada produksi film.

“Ada keinginan, kelas ini menghasilkan sebuah produksi. Percuma menguasai teori tapi tidak diwujudkan. Untuk mencapai itu, kita mesti paham dulu hal-hal teknis […] Di kelas ini saya berharap, semua bisa memiliki pengalaman dalam pengambilan gambar dan mampu berpikir visual dengan alat apapun yang kita punya. Saya ingin capaian kelas ini seperti itu,” ujar Esa.

Kelas film berupaya tidak hanya menjadi ruang yang memberikan pengetahuan hal teknis, atau hanya berhenti sebagai kursus penggunaan alat, tapi lebih dari itu, sasaran utamanya adalah memupuk kemandirian produksi dan kesadaran visual.

Setiap peserta diharapkan akan siap menggarap meski dengan keterbatasan alat sekalipun, atau sebaliknya, tak gagap bila harus menggunakan alat-alat yang mutakhir.

Kamera adalah Senjata: Film Dokumenter untuk Perubahan Sosial

Yufik, selaku salah satu penggerak kelas film Buruan Manglayang, sempat berbagi pengalaman dan gagasannya dalam berkarya lewat beberapa film yang pernah digarap. Salah satunya, “Homo Homini Lupus”, film dokumenter yang dibuat bersama Mudjib Prayitno.

“Homo Homini Lupus” merupakan dokumenter pendek yang merangkum ketegangan konflik agraria tahun 2006 di Garut, antara petani Cisompet yang dipaksa berhadapan dengan milisi sipil dan preman-preman kerahan PTPN VIII Bunisari Lendra. Film tersebut dipublikasikan pada tahun 2008 oleh Komunitas Perfilman Intertekstual (KoPi).

Menurutnya, KoPi yang kala itu dirintis bersama sejumlah kawan yang lain, berangkat dari keyakinan bahwa film berpotensi turut dalam arus perubahan sosial. Kamera dapat difungsikan sebagai “senjata” untuk berpendapat, menunjukan, atau menanggapi suatu isu sosial yang krusial.

Foto: Yufik (tengah) dalam koleksi dokumentasi Rumah Belajar Buyu Katedo – Poso


“Bersama teman-teman (Komunitas Perfilman Intertekstual), saya lebih mengembangkan documentary for social change. Kami percaya bahwa film itu untuk perubahan. Jadi, kamera sebagai alat atau sebagai senjata itu sejak awal begitu disadari oleh kami […] Ada satu film “homo homini lupus”, tentang konflik di Cisompet Garut, itu adalah satu contoh film sebagai upaya kamera melawan senjata,” ujarnya.

Ia menekankan pentingnya penggarapan film yang berangkat dari realitas terdekat, dari situasi yang terhadapi. Dalam membuat film, Yufik memilih mengambil bahan kontekstual dengan menggali yang ada dalam kehidupan, bukan dari belahan dunia awang-awang.

“Kita memulai (memproduksi film) dari kehidupan yang sedang berjalan […] kita memulai dari apa sedang kita lakukan, apa yang ada dalam kehidupan,” tutur Yufik.

Sebagaimana Esa, Yufik belajar memproduksi film secara otodidak. Namun, karyanya dihargai oleh banyak pihak. Salah satu filmnya yang mendapat sambutan luas adalah “Pelangi di Citarum”. Film yang merekam pencemaran Sungai Citarum ini diproduksi bersama Greenpeace Indonesia pada tahun 2012.



Yufik memilih film dokumenter sebagai alat ekspresi. Meski demikian, ia menyadari bahwa sebagai sebuah alat, film dokumenter bagaimanapun memiliki kapasitas yang terbatas dalam menampung “drama-drama” kehidupan.

Menurutnya, realitas yang hadir dalam film dokumenter tak pernah benar-benar utuh, hanya sekadar segmen kenyataan yang sumir. Tak ada yang lebih drama daripada yang dihadirkan oleh kehidupan itu sendiri.

“Tidak ada yang bisa benar utuh (merekam kehidupan). Apa yang saya filmkan itu tidak lebih drama dari apa yang sebetulnya sedang terjadi. Lebih drama kehidupan yang sedang berjalan. Hari ini kita dipertontonkan dengan lebih kejam, lebih drama. Kita setiap hari melihat darah di jalanan,”

Namun, bukan berarti film lantas kehilangan makna. Sejak mula, film memiliki tujuan. Siapa sangka, kamera memanglah senjata, sanggup menodong dan turut meletup dalam sebuah gegar perubahan sosial. Film dapat menjadi satu sekrup kebudayaan yang ikut menggerakan.

Demikian, kelas film Buruan Manglayang dapat dipandang sebagai ruang kreatif yang berupaya bersama-sama memupuk kesadaran visual, melatih penguasaan teknik dan alat perfilman, serta menajamkan kepekaan sosial.

(muh/muh)