Selamat Jalan Glenn Fredly

Selamat jalan, Glenn Fredly. Dok: Ilustrasi dari Karja

Nama Glenn telah menghiasi musik Indonesia selama 25 tahun sejak kemunculan pertamanya pada 1995. Lewat dua lagunya, “Terpesona” dan “Pantai Cinta”, Glenn bersama Funk Section mencetak hit.

Gaya bermusik band tersebut yang agak jazzy dan karakter vokal Glenn sangat R&B, Glenn dengan cepat “membius” para pencinta musik.

Selepas dari Funk Section, Glenn memutuskan untuk menempuh jalur solo dan membawa namanya semakin dikenal publik melalui lagu-lagu romantisnya.



Dikutip dari harian Kompas, 8 Juni 2008, Senior Artist & Repertoire Director Sony BMG Jan N Djuhana menilai, Glenn berbeda dari penyanyi solo lain. Menurut dia, satu hal prinsip yang membuat Glenn berbeda adalah ia mencipta lagu-lagunya sendiri sehingga mampu dengan persis menghayati lirik. Berbagai penghargaan telah diraihnya.

Glenn dan kariernya di dunia musik

Mengutip situs web pribadinya, glennfredly.com, berikut berbagai penghargaan yang pernah diraih Glenn:

AMI Award For Best Urban Production Work – Kasih Putih (2001)
AMI Award For RnB Male Solo – Kasih Putih (2001)
AMI Award For Pop Song – Dibalas Dengan Dusta (2004)
AMI Award For Best Pop Male Solo Artist (2005)
AMI Award For Best Mix Engineer – When I Fall In LOve (2006)
AMI Award For Best Foreign Language Song – When I Fall In Love (2006) AMI Award For Jazz Production Works – Tega (2006)
AMI Award For Urban Pop Male/Female Artist (2013)
Maia Award For Best Theme Song – Lights From The East: I Am Maluku dan Tinggikan (2014)

Tak hanya musisi, Glenn juga dikenal sebagai seseorang yang peduli terhadap isu lingkungan dan kemanusiaan. Kesibukan penyanyi kelahiran 1975 itu tak menghalangi keinginannya untuk mengampanyekan isu lingkungan di Indonesia.

Atas keprihatinannya akan pemanasan global, Glenn pernah menggelar konser bertajuk “Sayangi Bumi Hari Ini” yang melibatkan 52 musisi di Jakarta pada 2007 silam.

“Pemanasan global itu isu serius, tetapi edukasinya bagi kaum muda sangat kurang. Musik dalam konser nanti bukan sekadar hiburan, juga unsur edukasinya,” ujar Glenn, dikutip dari pemberitaan harian Kompas, 26 Juni 2007.

Ketika mengunjungi Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur, pada 2008, ia tak bisa menahan tangis ketika melihat salah satu desa mengalami kekeringan. Berawal dari kunjungan itu, Glenn menggagas Green Music Foundation untuk menyalurkan bantuan ke daerah, terutama yang dilanda kekeringan akibat dampak perubahan iklim.

Ia pun kembali menggelar konser Indonesian Earthfest pada 2008 dengan mengundang sejumlah musisi ternama. “Lewat program ini, para musisi ingin berjuang. Kami juga membuka kerja sama dengan perusahaan yang peduli pada masalah ini,” ujar dia, dilansir dari harian Kompas, 17 Desember 2008.

Dalam sebuah tanya jawab dengan penggemarnya yang dimuat di harian Kompas, 19 Juli 2011, suami dari Mutia Ayu itu menjelaskan alasannya memperjuangkan lingkungan. “Lingkungan hidup tak hanya bicara tentang memperjuangkan pelestarian alam, tapi juga memperjuangkan kemanusiaan. Melalui musik, saya bisa hidup dan menghidupi,” kata Glenn.

Pegiat lingkungan

Penyanyi Glenn Fredly tampil dalam konser Harmonia Titik Balik yang digelar di Balai Sarbini, Plaza Semanggi, Jakarta Pusat, Kamis (14/2/2019). Foto: KOMPAS.COM/KRISTIANTO PURNOMO

Tak hanya musisi, Glenn juga dikenal sebagai seseorang yang peduli terhadap isu lingkungan dan kemanusiaan. Kesibukan penyanyi kelahiran 1975 itu tak menghalangi keinginannya untuk mengampanyekan isu lingkungan di Indonesia.



Dilatarbelakangi atas keprihatinannya akan pemanasan global, Glenn pernah menggelar konser bertajuk “Sayangi Bumi Hari Ini” yang melibatkan 52 musisi di Jakarta pada 2007 silam.

“Pemanasan global itu isu serius, tetapi edukasinya bagi kaum muda sangat kurang. Musik dalam konser nanti bukan sekadar hiburan, ada juga unsur edukasinya,” ujar Glenn, dikutip dari pemberitaan harian Kompas, 26 Juni 2007.

Ketika mengunjungi Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur, pada 2008, ia tak bisa menahan tangis ketika melihat salah satu desa mengalami kekeringan. Berawal dari kunjungan itu, Glenn menggagas Green Music Foundation untuk menyalurkan bantuan ke daerah, terutama yang dilanda kekeringan akibat dampak perubahan iklim.

Ia pun kembali menggelar konser Indonesian Earthfest pada 2008 dengan mengundang sejumlah musisi ternama. “Lewat program ini, para musisi ingin berjuang. Kami juga membuka kerja sama dengan perusahaan yang peduli pada masalah ini,” ujar dia, dilansir dari harian Kompas, 17 Desember 2008.

Dalam sebuah tanya jawab dengan penggemarnya yang dimuat di harian Kompas, 19 Juli 2011, suami dari Mutia Ayu itu menjelaskan alasannya memperjuangkan lingkungan.

“Lingkungan hidup tak hanya bicara tentang memperjuangkan pelestarian alam, tapi juga memperjuangkan kemanusiaan. Melalui musik, saya bisa hidup dan menghidupi,” kata Glenn.

Pejuang kemanusiaan

Penyanyi Glenn Fredly saat wawancara di kantor redaksi Kompas.com, Jakarta, Selasa (19/9/2017). Ia tengah mempersiapkan konser bertajuk Tanda Mata Glenn Fredly untuk Slank 30 September 2017 mendatang. Foto: KOMPAS.com / KRISTIANTO PURNOMO

Glenn juga dikenal sebagai salah satu musisi Indonesia yang selalu menyuarakan kemanusiaan, khususnya untuk Indonesia timur. Pada 2003, Glenn bergabung dengan sebuah lembaga internasional untuk membantu anak-anak korban konflik Ambon.

Konflik berdarah yang melanda Ambon menyisakan luka mendalam bagi penduduknya. Minimnya fasilitas, tak adanya lapangan kerja, serta sarana dan prasarana yang rusak memperburuk kondisi warga Ambon saat itu.

“Saya tidak hanya ingin membantu Ambon saja, tapi saya ingin membantu daerah lain di Indonesia,” kata dia, dikutip dari pemberitaan harian Kompas, 27 Desember 2002.

Pada 2019, Glenn juga ikut bergabung dalam Voice From The East (VOTE), sebuah kampanye sosial dengan basis budaya untuk menyuarakan perdamaian, kesejahteraan, antikekerasan, pelestarian lingkungan hidup, dan demokratisasi untuk Indonesia timur.

Ide pembentukan VOTE berawal dari obrolan Glenn Fredly dengan beberapa kawan di Kontras. Obrolan itu muncul dari kegelisahan atas kondisi di Indonesia timur yang terus memburuk dari hari ke hari. Ada persoalan kekerasan, perusakan lingkungan, dan pelanggaran atas hak-hak masyarakat.

“Saya melihat pembunuhan identitas budaya pada masyarakat di Indonesia timur. Cara represif yang dilakukan pemerintah pada saat itu menguatkan indikasi itu,” kata Glenn, dikutip dari pemberitaan harian Kompas, 1 Mei 2012.

“Saya pikir ada masyarakat yang harus dipertahankan identitasnya. Padahal, di era globalisasi ini, yang terpenting adalah identitas,” sambungnya.

Kampanye ini dilakukan oleh kelompok seni seperti Glenn Fredly, Slank, God Bless, Indra Lesmana, Seringai, dan Panji Pragiwaksono yang berkolaborasi dengan lembaga swadaya masyarakat (LSM) pegiat isu kemanusiaan dan lingkungan.

Hingga akhir hayatnya, Glenn juga sering terlibat dalam berbagai aksi dan kampanye kemanusiaan. Terakhir, ia membuka donasi di situs urunan Kitabisa.com untuk membantu masyarakat yang terdampak virus corona. Glenn membuka donasi pada 24 Maret 2020, dan kini telah terkumpul lebih dari Rp 8 juta. Selamat jalan, Glenn Fredly….

Sumber: kompas

Probo Agung Laksono
Reporter