Mengenal Olahraga Crossfit, Baik atau Buruk

Photo: Getty Images / alvarez

Talamedia.id, Bandung – Bagi orang-orang yang berambisi memiliki tubuh atletis maupun kalangan penggiat olahraga kebugaran, crossfit bukanlah sesuatu yang asing lagi. Istilah ini sudah sejak lama populer di dunia kebugaran. Cukup banyak yang berpendapat bahwa metode latihan ini adalah metode terbaik dan paling berhasil jika ingin memperoleh bentuk tubuh atletis dalam waktu yang singkat.

Melansir dari website resmi Indonesia Fitness Trainer Association (APKI), Crossfit adalah program latihan yang menggabungkan dua unsur sistem aerobic serta anaerobic serta menekankan perpaduan latihan interval intensitas tinggi, angkat beban, senam dan disiplin lainnya dalam format serupa latihan sirkuit.

Latihan ini terkenal dengan polanya yang keras dan ketat, contohnya dalam satu sesi latihan Anda akan diminta melakukan 100 push-ups, 100 pull-ups, 100 sit-ups dan 100 squats.



Setiap harinya, latihan yang akan dilakukan adalah berbeda-beda, peralatan yang digunakan dalam metode latihan inipun bersifat beraneka ragam, mulai dari peralatan gym hingga ada yang menggunakan beban berat tubuh sendiri, tali tambang bahkan ban mobil.

Setiap orang diberikan beban yang sama saat menajalankan latihan crossfit, sistem ini lebih dikenal dengan “one size fit all”. Sehingga tidak ada perbedaan atau porsi latihan khusus bagi siapapun yang menjalankannya baik pemula atau orang yang sudah berpengalaman.

Berikut ini adalah beberapa hal yang perlu diketahui mengenai pola latihan crossfit :

  1. Melatih kekuatan otot dan stamina
  2. Bersemangat dan termotivasi
  3. Kedekatan emosional antar sesama group

Dalam metode crossfit, jenis gerakan-gerakan yang dilakukan biasanya bersifat fungsional dan dilakukan dengan intensitas tinggi. Tujuannya adalah meningkatkan kekuatan otot, ketahanan jantung dan fkelsibilitas tubuh. Karena intensitasnya yang tinggi dan jadwal latihan yang ketat, hasil dari latihan dengan metode crossfit lebih terlihat jelas sehingga sering dianggap metode yang paling berhasil. Namun, untuk dua alasan tersebut juga, metode crossfit diketahui merupakan metode latihan yang sangat rentan dengan cedera.

Dalam jurnal lain yang diterbitkan National Strength and Conditioning Association disebutkan, 73,5 persen peserta CrossFit mengalami cedera saat melakukan latihan. Kebanyakan dari mereka mengalami gangguan muskuloskeletal pada bagian bahu dan tulang belakang.

Ahli menyarankan, para pegiat olahraga kebugaran yang memiliki pola latihan seperti CrossFit untuk senantiasa memerhatikan kondisi tubuh mereka agar terhindar dari cedera. Mereka juga disarankan agar memahami gerakan-gerakan yang diberikan instruktur olahraga. Saat tubuh merasa lelah, ada baiknya untuk tidak memaksakan diri dan berhenti melanjutkan latihan.

(pal)

Probo Agung Laksono
Reporter