Penjelasan Antara Lockdown dan Social Distancing

Ilustrasi praktik social distancing. (En24 News)

Bandung, Talamedia.id – Untuk menanggapi pandemik virus corona, Presiden Joko Widodo atau Jokowi telah meminta warga untuk lebih memusatkan kegiatan di rumah.

“Saatnya kita kerja dari rumah, belajar dari rumah, ibadah di rumah, inilah saatnya bekerja bersama-sama saling tolong menolong dan bersatu padu, gotong royong,” kata Presiden Jokowi, Minggu (15/3/2020).

Hal tersebut juga disampaikan Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan yang mengatakan upaya yang bisa dilakukan saat menghadapi penyebaran penyakit menular, seperti COVID-19 adalah menghindari keramaian.

“Kita harus waspada dan kita harus disiplin dalam mengatur interaksi. Pencegahan penularan COVID-19 tidak bisa dilakukan hanya pemerintah,” kata Anies.



Ia juga telah meminta warga Jakarta untuk melakukan social distancing, atau menjaga jarak, mengurangi perjumpaan atau kontak fisik.

Tidak hanya di Indonesia, imbauan social distancing juga dikeluarkan di sejumlah negara, seperti Australia, Selandia Baru.

Perdana Menteri Australia, Scott Morrison diikuti oleh pemimpin sejumlah negara bagian telah menerapkannya, termasuk melarang acara dan kumpul-kumpul yang melibatkan 500 orang.

Pemeriksaan suhu tubuh pada penumpang yang tiba di Bandara I Gusti Ngurah Rai, Bali, Jumat (31/1/2020). (Antaranews Bali/Fikri Yusuf)

Perlunya Social Distancing

Upaya social distancing perlu dipahami sebagai salah satu bentuk pencegahan penularan COVID-19, selain untuk mengurangi beban layanan kesehatan masyarakat.

Definisi dari social distancing adalah mengurangi jumlah aktivitas di luar rumah dan interaksi dengan orang lain dianggap mampu mengurangi kontak tatap muka langsung.

Langkah ini termasuk menghindari pergi ke tempat-tempat yang ramai dikunjungi, seperti supermarket, bioskop, dan stadion.

Saat menerapkan social distancing, lembaga otoritas kesehatan di negara bagian New South Wales (NSW Health). Australia, mengatakan pergi ke kantor atau menggunakan transportasi umum masih diperbolehkan.

Namun, kita harus menjaga jarak setidaknya 1,5 meter dari orang lain, meski pakar kesehatan mengatakan tidak bisa diterapkan di segala situasi.



Mereka yang memilih metode ini sebagai tindakan pencegahan juga perlu menghindari acara-acara sosial. Seperti kumpul-kumpul bersama keluarga atau teman, termasuk ke pesta pernikahan.

Kontak fisik secara langsung, seperti berjabat tangan, berpelukan, serta berciuman juga harus tidak dilakukan. Hal itu karena virus corona menyebar lewat droplet, atau tetesan air liur.

Metode social distancing sudah diterapkan di kota Wuhan, provinsi Hubei, China, tempat virus corona berasal.

Saat wabah semakin merebak, otoritas kesehatan di China dengan cepat melarang acara-acara yang dihadiri warga dalam jumlah besar.

Karenanya, terdapat tingkat penularan yang menurun, ketimbang di Iran dan Italia, yang pemerintahnya tidak mengeluarkan imbauan social distancing.

Tak hanya social distancing, provinsi Wuhan juga menerapkan lockdown yang ketat. Namun di negara-negara lain, ‘lockdown’ belum tentu berhasil menekan lajut penyebaran virus.

Bedanya dengan Istilah Lockdown

Jalanan di Kota Milan, Italia tampak sepi usai secara resmi pemerintah menutup seluruh wilayah akibat virus corona. (Foto: AFP)

Berbeda dengan social distancing yang sifatnya masih berupa imbauan dan dilakukan atas kesadaran tiap individu, status lockdwon adalah tindakan yang dilakukan pemerintah dengan “memaksa” menutup sejumlah tempat dan kawasan.

Saat ini sejumlah negara di Eropa telah menutup tempat-tempat seperti sekolah, universitas, cafe, restoran, dan bioskop, atau pada dasarnya yang ramai dikunjungi warga.

Lockdown adalah situasi yang melarang warga untuk masuk tempat atau tempat karena kondisi darurat.

Lockdown juga bisa berarti negara yang menutup perbatasannya, agar tidak ada orang yang masuk atau keluar dari negaranya.

Di Perancis, istilah lockdown adalah menutup semua tempat-tempat yang dianggap ‘tidak vital’, seperti restoran, bioskop, dan tempat pariwisata, seperti menara Eiffel, yang berlaku mulai hari Minggu (15/03).



Tapi supermarket, apotek, bank, dan layanan publik, seperti transportasi umum, masih beroperasi, meski ada pembatasan siapa dan berapa orang yang bisa masuk dalam satu tempat.

Spanyol juga menerapkan lockdown, meski warga masih bisa pergi membeli makan dan obat, bahkan pergi ke kantor.

Dari beberapa contoh negara di Eropa, status lockdown tidak selamanya berarti menerapkan ‘social distancing’.

Meski lockdown sudah diberlakukan sejak 9 Maret, sejumlah warga Italia dilaporkan masih bersosialisasi.

Akibatnya jumlah kasus positif corona malah naik menjadi 21.000, setelah status lockdown diberlakukan.

Italia masih menjadi negara di Eropa yang paling parah terdampak virus corona, dengan jumlah kematian sudah melebihi 1.400 orang hingga akhir pekan kemarin.

Perbedaan antara istilah lockdown dan social distancing telah membuat kebingungan banyak warga, termasuk di Australia dan Indonesia.

Ketidakpahaman soal definisi keduanya juga membuat kepanikan yang berlebihan.

Warga takut jika lockdown diberlakukan, maka mereka tidak bisa lagi berbelanja kebutuhan hidup, sehingga mereka memborong barang-barang di supermarket karena merasa panik.

Padahal di beberapa banyak negara, mereka masih bisa berbelanja, bekerja, saat status lockdown diberlakukan, meski pergerakannya “secara paksa” dibatasi.

Dengan memahami perbedaan kedua istilah ini, kita bisa menerapkan tindakan mana yang lebih efektif untuk mencegah penyebaran virus corona, tidak hanya untuk melindungi diri sendiri, tapi juga memikirkan kondisi kesehatan orang lain.

Sumber: Suara.com dan ABC Australia

(pal)

Probo Agung Laksono
Reporter