Tekan Sebaran Covid-19, UIN Bandung Ciptakan Inovasi Alat Kesehatan

Low-cost ventilator, salah satu inovasi alat kesehatan hasil Tim Penelian UIN SGD. Dok. Mada Sanjaya.

Bandung, Talamedia.id – Universitas Negeri Islam (UIN) Sunan Gunung Djati (SGD) berinovasi dengan menciptakan tiga alat kesehatan pencegahan dan penanganan Covid-19. Ketiga alat tersebut adalah hand sanitizer otomatis, prototipe ventilator atau resparator low-cost, dan bilik disinfektan ‘kabut’.

Menurut dosen Fisika Fakultas Sains dan Teknologi (FST) UIN SGD sekaligus ketua tim peneliti, Mada Sanjaya, ketiga alat tersebut merupakan hasil penelitian kolaborasi antara dosen, alumni, dan mahasiswa UIN SGD. Beranggotakan Adhitya Rizaldi, Dyah Anggraeni, dan Rizki Multajam.

Menurut Mada, hal tersebut merupakan bentuk kontribusi sebagai akademisi untuk turut berupaya memutus rantai penyebaran wabah Covid-19 yang merebak di Indonesia.



“Ini bentuk kontribusi kami sebagai akademisi menanggapi wabah pandemi corona. Selain mengaplikasikan ilmu, diharapkan dapat membantu pihak yang membutuhkan,” ujar Mada saat dihubungi Talamedia, Kamis (2/4).

Mada mengatakan, proses produksi ketiga alat tersebut berjalan sangat cepat. Proyek dapat diselesaikan dalam waktu tiga hari. Untuk bahan produksi, Mada dan tim menggunakan barang-barang yang murah dan mudah didapat.

“Untuk produksinya cepat sekali. Kita mulai produksi hari Sabtu (28/3), selesai Senin (30/3). Produksi alat menggunakan barang-barang disekitar kita, agar terjangkau dan low-cost juga,” ujarnya.

Hand Sanitizer Otomatis, Ventilator, dan Bilik Disinfektan

Secara ringkas, Mada menjelaskan ketiga alat tersebut. Hand sanitizer otomatis, misalnya, dilengkapi dengan sensor sehingga bersifat non-contact. Pengguna, kata Mada, tidak perlu menyentuh ketika akan menyemprotkan cairan sanitizer, cukup dengan mendekatkan tangan, alat tersebut akan berfungsi secara otomatis.

Alat berikutnya adalah low-cost ventilator. Alat bantu pernapasan bagi pasien Covid-19 tersebut dibuat dengan budget yang murah. Mada berharap, ventilator buatan timnya dapat membantu para pasien di saat kondisi ventilator di rumah sakit tidak memadai. Dalam proses produksi ventilator, diakui Mada, terdapat kendala.

“Untuk ventilator awalnya kami kesusahan dalam melalukan digitalisasi pompa. Namun, setelah ditemukan caranya, proses produksi dapat berlanjut,” terang Mada.

Alat terakhir, bilik disinfektan ‘kabut’. Menurut Mada, bilik tersebut memiliki perbedaan operasi dengan bilik disifektan pada umumnya. Jika bilik desinfektan biasanya menggunakan system spray, maka bilik desinfektan ‘kabut’ ciptaan UIN SGD itu menggunakan sistem mist maker.

“Mist maker mampu mengubah partikel cairan menjadi partikel yang lebih kecil, partikel kabut. Dengan menggunakan mist maker, desinfektan yang disemprotkan akan lebih merata,” ujarnya.

“Untuk meminimalkan efek samping, setiap orang yang masuk ke dalam bilik disarankan untuk menggunakan masker,” tambahnya.

Hingga kini, bilik desinfektan ciptaan Tim UIN SGD sudah terpasang dan berfungsi sebanyak empat unit. Rencananya, pekan depan akan ditambah enam unit. Bilik-bilik disinfektan tersebut bakal disebar di sejumlah pesantren dan masjid di daerah Bandung dan Kuningan.

“Saya berharap terobosan teknologi ini bisa membantu masyarakat dan pihak medis yang tengah berjuang melawan Covid-19,” tandasnya.

(mtd)