Jenazah Covid-19, Ahli Forensik Unpad: Jangan Takut, Kuburkan dengan Benar

Ilustrasi. Dok. Pexels

Bandung, Talamedia.id – Penolakan jenazah pasien positif Covid-19 terjadi di sejumlah daerah. Masyarakat merasa khawatir jenazah tersebut bakal menularkan penyakit yang sama dan mencemari lingkungan sekitar.

Beberapa kasus penolakan misalnya terjadi di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Baki Nipa-Nipa, Kelurahan Antang, Makassar, Minggu (29/3). Berikutnya di TPU Pannara pada Selasa (31/3), serta penolakan serupa pun dilakukan warga Desa Tumiyang, Banyumas, Jawa Tengah, Rabu (1/4).

Menanggapi hal itu, Kepala Departemen Kedokteran Forensik Fakultas Kedokteran Unpad, Dr. Yoni Fuadah Syukriani, menyayangkan penolakan tersebut bisa terjadi di masyarakat. Padahal, menurutnya, jenazah Covid-19 aman jika pemakaman dilakukan dengan prosedur yang tepat.



“Jika jenazah dikelola dengan benar, maka tidak ada kemungkinan virus untuk masuk dan mecemari air tanah, sumur dan sebagainya,” tegas Yoni saat dihubungi Talamedia, Sabtu (4/4/2020).

Yoni menerangkan, virus akan ikut mati ketika jenazah telah dikubur. Karena itu, guna mencegah potensi penularan, jenazah justru harus dimakamkan sesegera mungkin, tidak lebih dari empat jam setelah kematian.

“Hal ini tertuang dalam peraturan Kementrian Kesehatan, jenazah Covid-19 harus dimakamkan tidak lebih dari empat jam setelah kematian,” imbuh Yoni.

Pasien Covid-19 yang baru saja meninggal, kata Yoni, memang berpotensi menularkan virus melalui cairan tubuh atau benda sekitar yang terkontak secara langsung. Oleh karena itu, pihak rumah sakit wajib mengamankan jenazah sesuai SOP.

“Harus dipastikan permukaan jenazah pasien Covid-19 bersih dan sudah dilakukan disinfeksi, lalu dibungskus secara rapat agar tidak ada kebocoran cairan. Setelah dibungkus, tidak boleh dibuka lagi. Ini harus dilakukan agar cairan tubuh tidak terpegang oleh tenaga medis yang bertugas,” ujarnya.

Jangan Takut, Kuburkan dengan Benar

Selama proses pemakaman berlangsung, para petugas disarankan tetap memakai alat pelindung diri (APD) yang memenuhi standar, meliputi masker, sarung tangan, dan baju kerja. Di samping itu, petugas harus tetap menjaga jarak untuk mengantisipasi potensi penularan.

Bagi pihak keluarga, sambung Yoni, tetap diperkenankan untuk melihat jenazah sebelum dimakamkan, namun sebaiknya harus seperti petugas, menggunakan alat APD lengkap dan juga dalam jarak yang aman.

“Begitupun selama proses pemakaman. Keluarga yang datang melayat setidaknya harus menggunakan masker dan memperhatikan jarak yang sudah ditetapkan, yaitu sejauh dua meter,” ujarnya.

Sementata itu, menyinggung reaksi penolakan di kalangan masyarakat, Yoni menilai, hal tersebut terjadi karena ketidakpahaman dari masyarakat. Yoni menyarankan, pemerintah daerah harus gencar mengedukasi dan menyampaikan sosisalisasi agar kejadian serupa tak terulang kembali.

Menurut Yoni, campur tangan pemerintah daerah tak bisa diabaikan. Selebihnya, pemerintah daerah, kata Yoni, harus melakukan perbincangan lebih lanjut mengenai lokasi pemakaman.

“Sebetulnya tidak diperlukan pemakaman khusus untuk jenazah Covid-19, jika jenazah dikelola dengan benar. Tapi, melihat reaksi masyarakat, pemerintah harus mengkaji ulang perihal lokasi pemakaman ini. Pemerintah diharapkan dapat bekerja sama untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat,” pungkasnya.

(mtd)