Ravio Putra dan Serentetan Kegeramannya Terhadap Negara

Ilustrasi. Dok: Istockphoto/BrianAJackson

Jakarta, Talamedia.id – Penangkapan Ravio Putra menjadi sorotan lantaran dianggap sebagai pembungkaman hak berekspresi dalam negara demokrasi. Lebih ironis lagi, alumni Universitas Padjadjaran (Unpad) ini ditangkap atas dugaan provokasi untuk penjarahan toko-toko yang diagendakan pada 30 April 2020 nanti.

Warganet ramai-ramai memberikan dukungan kepadanya melalui #bebaskanravio. Pemilik akun Twitter @raviopatra ini dikenal sebagai pemuda yang kerap megkritisi kebijakan negara. Belum lama, dia melayangkan kritik kepada pemerintah lantaran perusahaan kepemilikan Staf Khusus Presiden, Billy Mambrasar, terlibat dalam proyek negara di Papua.



Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol Yusri Yunus, membenarkan bahwa jajarannya telah mengamankan Ravio atas dugaan provokasi. Tuduhan tersebut bermula dari pesan berantai di WhatsApp yang menggunakan nomor Ravio. Namun, Ravio sedari awal merasa bahwa gawainya diretas.

“Halo semuanya. Ada masalah dengan WhatsApp saya. Mohon untuk TIDAK mengontak saya via WhatsApp dan jika ada yang berada di satu grup WhatsApp dengan saya, tolong segera keluarkan saya dari gtup atau, jika tidak bisa, minta seluruh anggota untuk keluar. Terima kasih,” demikian cuitannya pada 22 April pukul 15.31 WIB.

Ketika Yusri ditanya apakah pesan berantai di WhatsApp, dalam kondisi gawainya yang diretas, merupakan salah satu barang bukti penangkapan, dia hanya menjawab “tunggu saja hasil pemeriksaan.”

Adapun isi dari pesan yang beredar adalah, “KRISIS SUDAH SAATNYA MEMBAKAR! AYO KUMPUL DAN RAMAIKAN 30 APRIL AKSI PENJARAHAN NASIONAL SERENTAK, SEMUA TOKO YG ADA DIDEKAT KITA BEBAS DIJARAH.”

Penahanan Ravio yang dinilai tidak masuk akal serupa dengan penahanan Ananda Badudu dan Dhandy Laksono. Kronologi penangkapannya juga sama. Mereka didatangi oleh polisi berpakaian preman secara tiba-tiba.

Tiga sosok tersebut memiliki kesamaan, yaitu kerap mengkritisi kebijakan pemerintah. Lantas, apa saja sih isu-isu yang pernah dikritisi oleh peneliti dari Open Government Indonesia (OGI) itu?

1. Mengkritisi terpilihnya 8 mitra Kartu Prakerja

Pemilihan platform mitra Kartu Prakerja menjadi bulan-bulanan publik lantaran mekanismenya yang dinilai tidak transparan. Di samping itu, kritik juga banyak dialamatkan kepada Skill Academy yang merupakan bagian dari Ruangguru.

Ravio mengkritik dua hal tersebut. Dia juga mengaitkannya dengan conflict of interest lantaran pendiri dan pemilik Ruangguru, Adamas Belva, saat itu menjabat sebagai Staf Khusus Presiden.

Dia mempertanyakan dasar hukum terpilihnya delapan mitra Kartu Prakerja. Ravio sempat menyinggung utas Belva yang menulis bahwa diskusi soal kerja sama ini sudah ada sejak 2019. Sementara, pemerintah berdalih bahwa kerja sama dengan delapan platform mitra adalah situasi mendesak di tengah pandemik COVID-19. Karenanya, dipilih delapan platform yang memiliki kemampuan website hosting, bakal pelatihan online, dalam skala nasional.

Menurut Ravio hal ini janggal karena Permenko Prakerja Nomor 3 Tahun 2020, yang menjadi landasan hukum terpilihnya platform mitra, baru diundangkan pada 27 Maret 2020.

Platform terpilih memiliki tanggung jawab untuk melakukan kurasi terhadap lembaga pelatihan. Hal itu tertuang dalam Permenko Prakerja. Pada akhirnya, dia mempertanyakan apa dasar hukum pemilihan delapan mitra Kartu Prakerja? Dan bagaimana bisa platform terpilih melakukan kurasi lembaga pelatihan ketika dasar hukum pemilihan mitranya saja tidak jelas?

2. Penyajian data COVID-19 yang janggal

Kritik lain Ravio adalah otak-atik data statistik terkait COVID-19. Dia mengkritisi ucapan Menko Kemaritiman dan Investasi, Luhut Binsar Pandjaitan, yang mengaku heran kenapa korban meninggal virus corona tidak sampai 500 orang, padahal ada lebih dari 270 juta warga negara Indonesia. Ravio geram karena jangankan untuk menghitung jumlah kematian, kapasitas tes di Indonesia saja dinilainya masih tergolong rendah dibanding negara lain.

Dia juga mengkritisi Kepala Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Agus Wibowo, yang menyajikan data kematian per 1 juta penduduk. Sehingga, dia bisa menarik kesimpulan bahwa kondisi corona di Indonesia tidak mengkhawatirkan. Padahal, kalau melihat data berdasarkan case fatality rate (CFR), kondisi Indonesia tergolong negara yang paling mengkhawatirkan di dunia.

Kekhawatiran Ravio adalah pemerintah menelurkan kebijakan berdasarkan data dan bukti yang direkayasa. Dia juga mengkritisi keterbukaan informasi publik seputar corona. Padahal, Indonesia suda memiliki Undang-Undang Keterbukaan Informasi Publik yang mewajibkan pemerintah membuka data sejujur-jujurnya apabila data tersebut mengancam hajat hidup orang banyak.



3. Kejanggalan dalam proses penangkapan Ravio

Berdasarkan keterangan Direktur Eksekutif SAFEnet, Damar Juniarto, sarjana Hubungan Internasional itu ditangkap pada Rabu (22/4) malam ketika dia berada di rumah aman.

Ravio sempat bercerita kepada Damar, saat ia membuka WhatsApp, tiba-tiba muncul tulisan, “You’ve registered your number on another phone.” Setelah dicek ke inbox SMS, ternyata ada riwayat permintaan pengiriman kode OTP. Damar menyarankan supaya Ravio melapor kepada pihak WhatsApp.

Head of Security WhatsApp mengakui bahwa fitur chat Ravio sempat dibobol. Dalam kondisi terbobol itulah hoaks atau kabar bohong disebar.

Hal yang tidak kalah aneh, media Seword telah mengabarkan berita penangkapan Ravio 16 jam sebelum Damar mengumumkan bahwa Ravio telah diamankan. Tidak sedikit warganet yang berspekulasi bahwa penangkapan Ravio dilandaskan berita yang telah disebarkan oleh Seword. Warganet juga bertanya-tanya, bagaimana bisa Seword sudah mendapatkan konfirmasi penangkapan dalam waktu cepat?

4. Deretan aktivis yang ditangkap karena kritik pemerintah

Damar menduga penangkapan Ravio dilandasi atas kritiknya terhadap pemerintah setelah menyinggung kejanggalan data COVID-19.

Ravio tidak sendiri sebagai sosok yang ditangkap lantaran kritik-kritik tajamnya. Jurnalis Dhandy Laksono juga sempat diamankan aparat kepolisian pada 26 September 2019. Tokoh di balik film Sexy Killer ini ditangkap atas tuduhan ujaran kebencian melalui beberapa cuitannya.

Berikutnya, pada 27 September 2019 lalu, musisi Ananda Badudu juga diamankan Polda Metro Jaya atas tuduhan mendanai kegiatan aksi. Padahal, yang ia lakukan adalah mengumpulkan dana dari para donator supaya bisa digunakan secara efisien dan optimal.

Baru-baru ini, tepatnya pada Minggu, 19 April 2020, tiga mahasiswa yang rutin mengikuti Aksi Kamisan juga ditangkap oleh Polres Malang. Mereka ditangkap atas tuduhan penghasutan untuk berbuat vandalisme sekaligus menyasar para kapitalis yang dianggap merugikan masyarakat.

(yss)