Pandemi Covid-19: Bukti Aktivitas Manusia, Besar Pengaruhnya Bagi Bumi

Ilustrasi kerusakan bumi. Foto: waterlogic

Talamedia.id – Pandemi Covid-19 yang terjadi di seluruh penjuru dunia membawa dampak yang besar. Mulai dari melemahnya ekonomi sampai dampak tak terduga seperti perubahan kualitas udara di dunia yang terjadi selama pandemi. Hal ini menjadi bukti bahwa aktivitas manusia sangat berpengaruh pada kondisi di bumi.

Banyaknya pabrik-pabrik yang berhenti beroperasi dan kendaraan yang terparkir di garasi, membuat polusi udara mereda di sejumlah kota dunia. Seperti di Ibu Kota China, Beijing, dikenal karena tingkat polusi beracun yang tinggi. Kini memiliki pemandangan langit cerah yang tidak biasa karena pabrik-pabrik di kawasan itu menghentikan kegiatannya.

Melansir Liputan6.com, gambar satelit dari Badan Antariksa Eropa (ESA) menunjukkan berkurangnya tingkat nitrogen dioksida, produk sampingan dari pembakaran bahan bakar fosil yang menyebabkan masalah pernapasan. Pemandangan itu tampak di seluruh kota besar di benua itu termasuk Paris, Madrid, dan Roma ketika negara-negara terkunci atau lockdown dan membatasi perjalanan mencegah penyebaran Covid-19.



Menurut analisis yang diterbitkan dalam Carbon Brief, di China, penghasil emisi gas rumah kaca terbesar di dunia. Emisi karbon dioksida turun seperempatnya pada pertengahan Februari dibanding beberapa pekan sebelumnya.

Para ilmuwan mencatat penurunan serupa di polutan lain seperti nitrogen dioksida dan partikel di negara itu. Hal yang telah bertahun-tahun berusaha membersihkan udara yang tersumbat asap.

Lockdown bantu Pengurangan Emisi

“Dalam hal pergeseran atau perubahan yang benar-benar terjadi dalam semalam, ini sangat dramatis,” kata Lauri Myllyvirta, penulis laporan Carbon Brief dan analis utama di Pusat Penelitian Energi dan Udara Bersih seperti ditulis Liputan6.com.

Khusus di Jakarta, kebijakan kerja dari rumah atau work from home (WFH) selama pandemi COVID-19, serta curah hujan intens, telah memperbaiki kualitas udara Ibu Kota.

“Hujan yang turun di Jabodetabek juga turut membantu tercucinya atmosfer dari polusi,” kata Kepala Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta, Andono Warih.

Hal ini membuktikan bahwa perilaku manusia besar pengaruhnya pada kondisi di bumi. Lingkungan hidup yang mulai rusak menandakan butuh atensi lebih dari seluruh penduduk bumi untuk bisa diperbaiki. Berbagai kerusakan di bumi bersumber dari kebijakan, eksploitasi berlebihan, dan konsumerisme tanpa memerdulikan kondisi bumi yang tengah sakit.

Infografis Pemanasan Global. Foto: waterlogic

Melansir Mongabay, Berdasarkan data NOAA (The National Oceanic and Atmospheric Administration) tahun 2019 merupakan tahun kedua yang terpanas setelah tahun 2015. Suhu bumi mencapai 2,07 derajat Farenheit atau mengalami kenaikan 1,15 derajat Celcius.

Hal tersebut menunjukkan kondisi bumi memasuki masa kritis karena kenaikan suhu bumi mencapai 2 derajat Celcius akan menyebabkan kekeringan ekstrem dan kenaikan permukaan laut.

Untuk membantu bumi “sehat” kembali, butuh kerja sama yang konsisten dari berbagai pihak. Para pembuat kebijakan mesti paham betul bagaimana memanfaatkan sumber daya alam diiringi dengan atensinya terhadap keberlangsungan kehidupan jangka panjang.

Perubahan kondisi lingkungan selama pandemi ini bisa menjadi sebuah refleksi untuk merancang kegiatan eksplorasi alam yang lebih baik demi keberlangsungan kehidupan di bumi.

(rtp)