BMKG: Iklim Indonesia Tidak Cocok Untuk Penyebaran Covid-19

Ilustrasi Covid-19. (Shutterstock)

Bandung, Talamedia.id – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) baru saja mempublikasikan penelitian terkait dengan pengaruh cuaca dan iklim dalam penyebaran Covid-19 di Indonesia (4/4). Dalam rilis tersebut, BMKG menyebutkan iklim tropis Indonesia sebenarnya membantu menghambat penyebaran covid-19.

Penelitian ini melibatkan 11 Doktor di Bidang Meteorologi, Klimatologi dan Matematika. Sekain itu, didukung oleh Guru Besar dan Doktor di bidang Mikrobiologi dari Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan UGM.

Hasil kajian tersebut menemukan bahwa cuaca dan iklim merupakan faktor pendukung untuk kasus pandemi ini berkembang pada outbreak (penyebaran) yang pertama di negara atau wilayah dengan lintang tinggi.



Artinya, dapat disimpulkan sementara bahwa negara-negara dengan lintang tinggi cenderung mempunyai kerentanan yang lebih tinggi dibandingkan dengan negara-negara tropis. Hal ini sejalan dengan hasil analisa dari Sajadi et. al. (2020) serta Araujo dan Naimi (2020).

Selain itu, menurut hasil penelitian lainnya dari Chen et. al. (2020) dan Sajadi et. al. (2020) disebutkan bahwa kondisi udara ideal untuk virus corona adalah temperatur sekitar 8 – 10 °C dan kelembapan 60-90%.

Artinya lingkungan terbuka yang memiliki suhu dan kelembaban yang tinggi merupakan kondisi lingkungan yang kurang ideal untuk penyebaran kasus Covid-19.

“Para peneliti itu menyimpulkan bahwa kombinasi dari temperatur, kelembapan relatif cukup memiliki pengaruh dalam penyebaran transmisi Covid-19,” ujar Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati dalam siaran pers (4/4).

Corona lebih Stabil Hidup di Udara Dingin dan Kering

Penelitian ini menemukan bahwa semakin tinggi temperatur, maka kemungkinan adanya kasus COVID-19 harian akan semakin rendah (penelitian Bannister-Tyrrell et. al. (2020)). Kemudian, virus Corona ini cenderung lebih stabil dalam lingkungan suhu udara dingin dan kering (penelitian Wang et. al. (2020)).

Peneliti BMKG juga menemukan fakta bahwa outbreak yang terjadi di Indonesia dipengaruhi oleh pengaruh pergerakan atau mobilitas manusia dan interaksi sosial. Padahal, dengan kondisi cuaca dan iklim serta letak geografis Indonesia menjadi tempat yang relatif rendah untuk penyebaran virus ini.

“Indonesia yang juga terletak di sekitar garis khatulistiwa dengan suhu rata-rata berkisar antara 27- 30 derajat celcius dan kelembapan udara berkisar antara 70-95%. Dari kajian literatur sebenarnya merupakan lingkungan yang cenderung tidak ideal untuk outbreak COVID-19,” lanjutnya dalam rilis tersebut.

Laporan ini merekomendasikan agar publik tetap membatasi mobilitas dan interaksi sosialnya dan tetap menjaga kesehatan. Selain itu, untuk terus meningkatkan imunitas tubuh, manfaatkan kondisi cuaca untuk beraktivitas atau berolahraga pada jam yang tepat. Terutama di bulan April hingga puncak musim kemarau di bulan Agustus nanti.

“Karena cuaca yang sebenarnya menguntungkan ini, tidak akan berarti optimal tanpa penerapan seluruh upaya tersebut dengan lebih maksimal dan efektif,” ujar Dwikorita.

(rtp)