Solusi LIPI: Ozon Nanomist, Bahan Disinfektan Nonkimia

Ilustrasi penggunaan disinfektan. Foto: Pixabay

Bandung, Talamedia.id – Untuk memutus rantai penyebaran covid-19, penyemprotan disinfektan gencar dilakukan. Tak jarang proses ini pun langsung mengenai tubuh manusia. Padahal, penggunaan bahan-bahan kimia seperti yang dilakukan masyarakat di bilik-bilik disinfektan dinilai dapat membahayakan jika terkena pakaian atau selaput lendir.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) tidak merekomendasikan mekanisme penyemprotan alkohol atau klorin ke tubuh manusia. Sebagai pengganti alkohol atau klorin, Kepala Balai Pengembangan Instrumentasi LIPI, Anto Tri Sugiarto menyampaikan, LIPI kini telah mengembangkan Ozon Nanomist sebagai bahan dasar disinfektan nonkimia.

“Ozon merupakan bentuk lain dari oksigen yang merupakan reaksi oksigen dan sinar ultraviolet dari matahari. Ozon banyak ditemui di sekitar kita dan kembali menjadi oksigen secara alami,” jelas Kepala Balai Pengembangan Instrumentasi LIPI, Anto Tri Sugiarto dalam keterangan tertulis yang diterima, Selasa (7/4).



Anto menjelaskan, sejak 1906, Ozon digunakan sebagai bahan dasar disinfektan, memiliki kemampuan oksidasi lebih baik dibandingkan klorin dan hidrogen peroksida. Saat ini, sambung Anto, ozon banyak dipergunakan untuk sterilisasi bahan makanan, minuman, peralatan produksi, peralatan medis, air kolam renang dan pada pengolahan air minum.

“Hal ini menjadikan Ozon sangat efektif dalam membunuh berbagai jenis mikroorganisme berupa virus, bakteri dan jamur,” ujar Anto.

Ozon Alternatif Disinfektan

Anto menjelaskan, bila dipaparkan dalam udara di sebuah ruangan, ozon mampu menstrerilisasi udara dan permukaan ruangan tersebut. Ozon efektif menonaktifkan SARS pada udara dan permukaan dengan durasi pemaparan hingga 30 menit dan dengan dosis 0.5-2.5 part per million.

“Bahkan Ozon saat ini juga dipergunakan untuk terapi beberapa jenis penyakit termasuk SARS dan MERS,” tambahnya.

Dengan kemampuan tersebut, kata Anto, Ozon diyakini dapat digunakan untuk menggantikan bahan kimia yang selama ini digunakan. Ozon dinilai lebih aman membunuh bakteri atau virus menempel di permukaan atau di udara, dalam ruangan tertutup seperti bilik desinfektan.

“Ozon nanomist secara teknis dapat dipakai untuk menggantikan disinfektan kimia di bilik desinfektan dengan potensi resiko lebih rendah selama dipakai mengikuti durasi dan ketentuan,” ungkapnya.

Kendati demikian, Ozon Nanomist tidak menjamin seseorang dapat terbebas dari virus di dalam tubuh. Menurut Anto, upaya pencegahan lain pun tetap harus dilakukan.

“Upaya pencegahan terbaik tetaplah dengan gaya hidup sehat dan bersih, serta rajin mencuci tangan dan mandi setelah beraktivitas di luar rumah,” tutup Anto.

(rtp)