Lockdown India Berujung Kekacauan

Ribuan pekerja migran memadati terminal bus meninggalkan New Delhi, Sabtu (28/3), untuk kembali ke kampung halaman mereka, – (AP)

Bandung, Talamedia.id – Perdana Mentri (PM) India Narendra Modi mengumumkan pemberlakuan karantina wilayah atau lockdown secara nasional pada Selasa (24/3). Kebijakan tersebut diambil guna mencegah penyebaran virus corona tipe baru penyebab penyakit Covid-19. Lockdown diterapkan pada Selasa tengah malam atau Rabu dini hari waktu setempat. Modi menegaskan, karantina wilayah berlangsung selama 21 hari mendatang.

“Seluruh negara akan di-lockdown. Lockdown total,” kata Modi dalam pidatonya yang disiarkan di televisi, dilansir dari laman BBC.

Kebijakan lockdown yang dilakukan pemerintah India berujung kacau. Lockdown dilaporkan memicu kepanikan warga India. Orang-orang dilarang meninggalkan rumah mereka di bawah tindakan lockdown total. Semua bisnis yang tidak penting telah ditutup dan hampir semua pertemuan publik dilarang.



Melansir BBC, Minggu (29/3/2020), setelah PM India Narendra Modi mengumumkan lockdown, warga di Delhi dan Mumbai mulai berbondong-bondong berbelanja. Mereka memadati toko dan apotek karena khawatir kekurangan pasokan.

Sebanyak 1,3 miliar penduduk India kehilangan pekerjaan dan kelaparan. Puluhan ribu buruh migran terpaksa berjalan ratusan kilometer ke desa asal mereka setelah transportasi dihentikan. Seorang pekerja dilaporkan meninggal pada hari Sabtu (28/3) setelah dia berusaha berjalan sejauh 168 mil (270km) kembali ke rrumah.

Orang-orang berjalan di Pasar Mandi yang ramai di New Delhi, saat lockdown nasional berlanjut. (Yawar Nazir/Getty Images)

Pengujian yang Buruk dan Minimnya Fasilitas Kesehatan

Mengutip Aljazeera, Para ahli juga mengatakan kemampuan India untuk menguji buruk. Pengujian yang lebih kuat akan mengungkapkan tingkat sebenarnya dari pandemi tersebut.

“Kami harus menguji siapa pun yang menunjukkan gejala apa pun, kami tidak dapat dibatasi pada kasus rawat inap atau mereka yang memiliki riwayat perjalanan,” kata Dr. T Sundaraman, penyelenggara nasional Gerakan Kesehatan Rakyat.

Tidak hanya kemampuan pengujian India yang rendah, karena kasus COVID-19 terus meningkat, negara ini juga menghadapi kekurangan peralatan medis. India memiliki 0,7 tempat tidur rumah sakit untuk setiap 100.000 orang.

Ventilator di India terbatas dengan jumlah 100.000 ventilator. Namun keseluruhan ventilator tersebut telah digunakan oleh pasien kritis di beberapa rumah sakit swasta. India masih memerlukan 70.000 ventilator. Tetapi pada hari Jumat, pemerintah mengumumkan bahwa mereka hanya memesan 10.000.

“Ventilator adalah peralatan yang mahal dan penting yang akan diproduksi oleh Organisasi Penelitian dan Pengembangan Pertahanan”. Kata Dr Preeti Kumar dari Yayasan Kesehatan Masyarakat India, sebuah organisasi publik-swasta.

Dalam pidato radio mingguannya, dilansir dari BBC, PM Narendra Modi meminta maaf atas dampak dari kebijakan lockdown tersebut. Namun dia mengatakan tidak ada cara lain untuk menghentikan penyebaran virus yang cepat.

“Aku mengerti masalahmu tetapi tidak ada cara lain untuk berperang melawan virus corona. Itu adalah pertempuran hidup dan mati dan kita harus memenangkannya,” ujar Modi dalam pidatonya.

India telah melaporkan sekitar 1.000 kasus positif terinfeksi corona dan 25 kematian. Namun, para ahli khawatir bahwa jumlah sebenarnya infeksi bisa jauh lebih tinggi.

(mfd)