Lockdown Gunung


Oleh: Dyah Lyesmaya
Seorang Blue Hikers

Sejak wabah ini merebak di dunia, Indonesia menemukan kasus pertamanya pada tanggal 2 Maret 2020. Sampai hari ke 22 tercatat kasus 686 orang positif, 55 orang meninggal dunia, dan 30 pasien dinyatakan sembuh. Tenaga medis yang gugur berjumlah enam orang dokter dan satu perawat.

Jika kita berkaca pada Negara Italia, yang menemukan kasus pertamanya pada 31 Januari. Pada hari ke-20 berjumlah 20 orang sedangkan di hari ke-50 ditemukan 47.021 orang positif. Sehingga keadaan berlipat ini tentu sangat mengkhawatirkan.

Berlipatnya orang yang terpapar virus ini di Italia disebabkan oleh upaya pencegahan dari pemerintah yang tidak dituruti oleh warganya. Mereka tidak melakukan anjuran membatasi jarak untuk menekan penyebaran virus ini. Anjuran pembatasan jarak juga sudah di berlakukan di Indonesia sejak 16 Maret hingga nanti 28 Maret.

Namun, mencermati jumlah kasus yang terus berlipat ganda, perpanjangan pembatasan jarak ini diperpanjang hingga 29 Mei 2020. Bahkan di beberapa kampus tanah air, para rektor mengeluarkan kebijakan perpanjangan pembelajaran jarak jauh hingga akhir semester ini.

Lima hari yang lalu, pada 20 Maret 2020, Badan kesehatan dunia, WHO (World Helath Organization), telah mengganti istilah social distancing (pembatasan jarak sosial) dengan physical distancing (pembatasan jarak fisik).

Dalam skrip wawancara, yang dapat di unduh di laman http://t.co/3S3MEU2drX, Maria Van Kerkhove, sebagai pemimpin teknis untuk respon Covid-19 menyebutkan bahwa alasan WHO mengganti istilah ini karena ingin manusia tetap berhubungan secara sosial satu sama lain meski berjarak secara fisik. Ia mengingatkan pula bahwa kesehatan mental (yang dapat dilakukan dengan cara interaksi sosial) sama pentingnya dengan kesehatan fisik.

Illustrasi Lockdown Gunung. Foto: Pixabay

Menjaga jarak fisik sebentar juga pernah diajarkan nabi kita Nuh Alahi Salam dan Muhammad Sololohu Alaihi wa Salam.

Nabi Nuh diperingatkan Allah mengenai banjir besar yang akan datang. Melalui Hikmah, Beliau membuat bahtera jauh di atas gunung dan menjadikannya rumah bagi semua makhluk hidup. Arti kata Nuh dalam bahasa Ibrani adalah tenang, istirahat, atau keselamatan.

Nabi Nuh dengan penuh perhitungan, menanam pohon dijadikan bahtera, mengumpulkan bibit dan makhluk hidup secara berpasangan. Serta menjauhkan diri dari keramaian dan membangun bahtera untuk menghadapi banjir besar. Ini adalah upaya pencegahan dan mitigasi yang dikemukakan Al-Quran. Mulailah dengan menanam untuk menghalau bencana.

Nabi Muhammad juga pernah menjauh dari keramaian, menuju Gunung Jabal Nur.

Beliau bertafakur (merenungi diri) di Gua Hira untuk memecahkan masalah sosial yang terjadi pada saat itu. Seolah ingin menjauhi energi negatif yang dipraktekan kaum jahiliyah saat itu. Bahkan beliau sampai bermalam-malam berdiam diri di Gua Hira untuk menetralisisr energi negatif menjadi positif.

Hingga akhirnya, pada usia 40 tahun turun ayat pertama dalam Al-Quran “Bacalah!dengan menyebut nama Tuhanmu yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah, Bacalah! Dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah, Yang Mengaajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.” (QS: Al-Alaq, 1-5).

Itu adalah hal yang dilakukan para Nabi untuk menyelamatkan umat dari bahaya. Kisahnya jauh berabad abad yang lalu. Mencontohkan pada kita untuk dapat memahami kembali diri dan keagungan sang pencipta dengan terus memikirkan kemaslahatan orang disekitar kita.

Di Indonesia, physical distanding juga dilakukan oleh para pendekar silat dan empu-empu yang bersemedi untuk mencari kesaktian diri. Mereka menyendiri, menyepi jauh di gunung-gunung dan gua-gua untuk berkonsentrasi memahami posisi diri di alam ini.

Contoh konkrit terbaru juga diajarkan guru kita, Prof.Imam Robandi. Melalui tulisannya dini hari tadi, kita mengetahui, beliau menghabiskan waktu dari pukul 10 pagi hingga 11 malam dengan menulis untuk mengejar penyelesaian buku terbarunya.

Bagaimana dengan Anda sekarang ini? Akan dijadikan apa rumah Anda saat ini? Bahtera, Gua Hira, atau tempat bersemedi?

Saran saya, pilihan manapun yang Anda pilih, jadikan itu untuk meningkatkan kualitas dan kesaktian diri.

Cipatat, 25 Maret 2020


Catatan Kaki :

  • Penulis : Dyah Lyesmaya
  • Pekerjaan : Dosen PGSD, FKIP, Universitas Muhammadiyah Sukabumi
  • Kelahiran : Garut, 27 Nopember 1982
  • Asal : Kabupaten Bandung Barat
  • Masa Kecil : Pasirjati, Bandung dan cibiuk, Garut
  • Pendidikan : Doktor PGSD Universitas Pendidikan Indonesia konsentrasi Pendidikan Dasar

work experience :

  1. customer service of Standard Chartered Bank (2006 s.d. 2009)
  2. Dosen di PGSD FKIP UMMI (2012 until now)
    marriage life : maried Julia Rahmat (Baros) with 3 children
    Almira Thaha Ismail, Ismail Emir Syams, dan Syams Ismail Shahbaz

achievement :

  1. Best lecture in 2015
  2. Writer of 1 handbook and co-writer of 4 comercial book.
  3. Presenter at national and international seminar of education
  4. Developer of value based learning Model
  5. Assistant Teacher at ShuTe University Taiwan (2018)

Editor (pal)

Artikel telah terbit di PGMI IAILM

Reporter