Mengenang Arief Budiman, Sebuah Catatan yang Sangat Personal

ARIEF BUDIMAN Sosiolog, aktivis demonstran tahun 66, kelahiran Jakarta, 3 Januari 1941 dengan nama Soe Hok Djin. Foto: KOMPAS/Hasanuddin Assegaf

INI adalah catatan yang sangat personal tentang sosok Prof Arief Budiman yang saya kenal.

Adalah Prof Arief Budiman yang pertama mempertemukan saya dengan mahaguru keberpihakan pada kaum tertindas saya, Gus Dur, pada upacara pernikahan putri beliau di taman sederhana nan indah griya beliau yang dirancang oleh Romo Mangunwjijaya.

Adalah Prof Arief Budiman yang mendukung kekeliruan saya menggagas Kelirumologi bahkan nekat mendirikan Pusat Studi Kelirumologi sebab Sang Pelopor Golput meyakini tidak ada orang lain yang lebih sering berbuat kekeliruan ketimbang saya.

Adalah Prof Arief Budiman yang mengabulkan permohonan saya untuk membuat kata pengantar bagi buku perdana saya tentang kelirumologi dengan rekor kata pengantar pertama di alam semesta yang menegaskan (menghasut?) bahwa sebenarnya sangat keliru jika membaca apalagi membeli buku yang dikata-pengantari oleh doktor sosiologi jebolan Universitas Harvard itu.



Adalah Prof Arief Budiman yang menyalahkan istri tercintanya, Leila Chairani sebab pada berbagai forum seminar psikologi sudi terpancing berdebat dengan seorang yang goblog tapi ngeyelan seperti saya yang tidak mau menyia-nyiakan kehormatan menjadi moderator Mbak Leila yang saya hormati.

Adalah Prof Arief Budiman yang menyadarkan saya bahwa gender bukan hanya nama alat musik tradisional jawa tetapi juga istilah psikososial untuk membedakan peran berdasar jenis kelamin.

Prof Arief Budiman adalah kakak kandung Soe Hok Gie

Adalah Prof Arief Budiman sebagai ketua Departemen Studi Indonesia di Universitas Melbourne yang memberikan kehormatan bagi saya di forum terhormat Melbourne University berbicara tentang Indonesia dilengkapi penampilan karya video potpourri para tokoh nasional Indonesia menyanyikan lagu Indonesia Pusaka mahakarya Ismail Marzuki nan legendaris menggetar sukma itu.

Adalah Prof Arief Budiman yang memberikan suri-teladan perilaku keberpihakan ke kaum tertindas dengan aksi pembelaan nyata terhadap para tukang becak yang digusur penguasa di Salatiga.

Adalah Prof Arief Budiman yang mengajari saya tentang berani bicara yang benar sebagai yang benar dengan menyatakan dirinya sama sekali tidak keberatan disebut Cina sebab memang adalah benar bahwa pada kenyataan kakak Soe Hok Gie memang seorang warga Indonesia keturunan Cina.

Adalah Prof Arief Budiman sebagai penandatangan Manifesto Kebudayaan 1963 yang memberikan warisan kesadaran kepada saya bahwa cinta Indonesia bukan dibuktikan dengan sekadar sebutan atau predikat namun dengan kenyataan sikap dan perilaku.

Dari lubuk sanubari terdalam, dengan penuh kerendahan hati, saya memanjatkan doa permohonan Yang Maha Kasih berkenan menerima arwah seorang putra terbaik Nusantara di sisi Yang Maha Kasih di alam baka. Amin.


Penulis:
Jaya Suprana

Penulis adalah pendiri Sanggar Pembelajaran Kemanusiaan, Host di Jay Suprana Show

Sumber: Kompas.com

Reporter
Latest posts by Redaksi Talamedia (see all)