Overhang: Kepompong Kehidupan

Hari ini, Kepompong itu berumur 6 hari. Dia menggantung pada pohon beringin di depan rumah saya. Dia menjadi istimewa untuk saya karena dua jam sebelum dia menjadi kepompong dia adalah ulat yang menggantung di dahan itu. Panjangnya sekitar 10 cm sebesar kelingking orang dewasa. Warnanya hitam belang putih kuning, cantik sekali.

Awalnya, saya mengira ulat itu kelelahan atau kepanasan karena sengatan matahari pagi itu memang terik sekali. Saya segera masuk rumah waktu itu. Tetapi setelah beberapa saat saya di dalam rumah saya berpikir ulang, saya takut, ulat itu jatuh dan mengenai anak-anak saya yang sedang bermain di halaman. Saya memeriksa pohon beringin itu lagi. Ulat sudah tidak ada, ia berubah menjadi kepompong. Saat itu, saya lega, berarti anak-anak aman bermain seharian di halaman rumah.

Enam hari berlalu sejak dia menjadi kepompong dan tepat delapan hari setelah pembatasan interaksi sosial (social distancing). Dia tetap bergantung di dahan kecil itu tetapi saya mulai berkurang kesabaran dan sedikit kelelahan menghadapi anak-anak yang mempunyai keinginan ini itu seolah ajimumpung ibunya selalu ada di rumah. Pagi ini saya perhatikan, warna cangkang kepompong itu lebih mengkilat keperakan padahal sebelumnya warnanya kekuning kuningan. Masih 3 mingguan lagi kurang lebih dia akan keluar dari kepompongnya. Insya Allah menjadi makhluk Allah yang lebih cantik lagi.

Melihat kepompong yang menggantung itu, saya jadi teringat kesusahan waktu latihan panjat tebing saat saya masih berstatus mahasiswa UNPAD dan anggota pecinta alam Blue Hikers. Saya harus menaklukkan tebing dengan kemiringan 90-180 derajat dari permukaan. Hal ini menyebabkan saya harus sedikit menggantung, dan mengayunkan badan saya supaya saya dapat mencapai point pijakan di atasnya.

Itu butuh upaya yang keras dan latihan yang terukur dan kesabaran. Ketahanan dan kekuatan mental menjadi penting saat ini, sebab jika tidak, usaha memanjat dari dasar, jika kita terpeleset saat itu, maka kita akan terjun bebas lagi ke bawah. Tebing Overhang, kita menamakannya. Tebing yang memaksa kita untuk menggantung melawan gravitasi, tetap fokus, memegang kendali, dan mengerahkan segala tenaga dan mental kita.

Beda halnya dalam rangka mobil, Overhang juga ada dalam setiap mobil yang kita kendarai. Ini adalah bagian mobil yang diukur dari jarak sumbu roda dengan ujung bumper depan (front overhang) dan belakang mobil (rear overhang). Overhang memiliki pengaruh yang signifikan terhadap luas ruang mesin, bagasi, juga tampilan mobil.

Performa dan handling (kemampuan kendali) juga akan sangat dipengaruhi oleh panjang pendeknya overhang. Semakin pendek overhang (seperti pada mobil minicooper) maka kontribusi terhadap ketajaman handling akan sangat berpengaruh, terutama saat mobil diharuskan menikung dengan ekstrim.

Betapa kita sebagai makhluk dan benda mati seperti mobil sangat memerlukan kondisi overhang ini. Membuat kita akan menyadari akan segala kekurangan kita. Kita memerlukan saat bergantung dan memperhitungkan segala kemampuan kita pada posisi ini.

Bergembiralah saudaraku menghadapi keadaan kita sekarang. Wabah ini memaksa kita untuk berlatih overhang. Overhang mengingatkan kita untuk mampu mengendalikan diri dari apa yang ada di dalam dan di luar kita.

Kepompong memberi kita tanda, Allohu shomad (Allah lah tempat bergantung) karena Allah sangat kokoh, yang bergantung kepada-Nya semua makhluk dalam memenuhi segala kebutuhan dan permintaan mereka.

Hari ini tepat tujuh tahun lalu saya melahirkan anak kedua. Sejak lahir, dia di ICU sampai 3 bulan lamanya dan divonis dokter tidak mampu bertahan hidup karena penyakit langka yang dideritanya. Kebahagiaan saya sekarang tidak terhingga, bersyukur, masih melihat dia tertawa, menangis, dan bercengkrama dengan kakak dan adiknya di halaman rumah bersama kepompong yang mengkilat keperakan.

Cipatat, 23 Maret 2020


Catatan kaki :

  • Penulis : Dyah Lyesmaya
  • Pekerjaan : Dosen PGSD, FKIP, Universitas Muhammadiyah Sukabumi
  • Kelahiran : Garut, 27 Nopember 1982
  • Asal : Kabupaten Bandung Barat
  • Masa Kecil : Pasirjati, Bandung dan cibiuk, Garut
  • Pendidikan : Doktor PGSD Universitas Pendidikan Indonesia konsentrasi Pendidikan Dasar

work experience :

  1. customer service of Standard Chartered Bank (2006 s.d. 2009)
  2. Dosen di PGSD FKIP UMMI (2012 until now)
    marriage life : maried Julia Rahmat (Baros) with 3 children
    Almira Thaha Ismail, Ismail Emir Syams, dan Syams Ismail Shahbaz

achievement :

  1. Best lecture in 2015
  2. Writer of 1 handbook and co-writer of 4 comercial book.
  3. Presenter at national and international seminar of education
  4. Developer of value based learning Model
  5. Assistant Teacher at ShuTe University Taiwan (2018)

Editor (pal)

Reporter