Sri Mulyani: Skenario Terburuk Ekonomi RI Minus 0,4 Persen

Menteri Keuangan Sri Mulyani memberikan keterangan kepada media tentang Stimulus Kedua Penanganan Dampak Covid-19 di kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta, Jumat (13/3). ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja/ama.

Bandung, Talamedia.id – Menteri Keuangan sekaligus Ketua Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) Sri Mulyani memprediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia berkisar 2,3 persen karena terdampak wabah covid-19. Ia juga memperkirakan skenario terburuknya ekonomi RI minus hingga 0,4 persen.

“Kami memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia akan tumbuh 2,3 persen, bahkan dengan skenario terburuk bisa minus 0,4 persen,” ucap Sri Mulyani dalam siaran live di akun Youtube Kemenkeu RI, Rabu (1/4).

Penyebab anjloknya pertumbuhan ekonomi tersebut karena konsumsi rumah tangga, investasi dan konsumsi pemerintah yang turun. Menurutnya, konsumsi rumah tangga menurun menjadi 3,2 persen hingga 1,6 persen. Nilai ini jauh di bawah pertumbuhan konsumsi yang biasa di angka 5 persen.



Sementara, konsumsi pemerintah sedang dipertahankan tetapi memperlebar defisit. Meski demikian, ia memastikan pemerintah akan mempertahankan pertumbuhannya hingga 6,83 persen dan kemungkinan terburuk dijaga agar tidak lebih rendah dari 3,73 persen.

Sri Mulyani bersama BI dan OJK mengaku sudah mempersiapkan skenario sampai yang terburuk. Langkah ini disiapkan agar siap menghadapi berbagai kemungkinan dan implikasi sosial serta keuangan.

“Jadi beberapa langkah yang dilakukan dari diagnosa perekonomian global yang negatif adalah ancaman terhadap sektor keuangan dalam bentuk capital outflow, tekanan pasar modal, surat berharga dan ekskalasi masih tajam,” jelas Sri Mulyani.

Mengutip Tirto.id, Terakhir kali pertumbuhan ekonomi minus terjadi pada 1998, saat krisis ekonomi. Waktu itu pertumbuhan ekonomi Indonesia minus 13 persen. BJ Habibie, Presiden pengganti Soeharto, bisa menaikkanya lagi menjadi 0,79 persen pada 1999. Sementara pertumbuhan ekonomi tahun lalu berada di angka 5,1 persen.

Sri Mulyani juga menyatakan investasi akan merosot dari perkiraan bisa tumbuh 6 persen di tahun 2020 menjadi hanya 1 persen. Kemungkinan terburuknya, kata Sri Mulyani, “bahkan minus 4 persen.”

Ekspor juga akan terpengaruh dan mengalami kontraksi yang lebih dalam. Sri Mulyani mengatakan di kisaran minus 14 persen hingga minus 15,60 persen. Impor juga diprediksi akan tetap kontraksi di kisaran minus 14,50 persen hingga minus 16,65 persen.

(rtp)