Warisan Bung Sembilan Delapan


Jatinangor, talamedia.id – “Warisan Bung Sembilan Delapan” menjadi jenama diskusi buku yang digelar Departemen Ideologi, Gelanggang, Himpunan Mahasiswa Sastra Indonesia Unpad, pekan lalu (12/11).

Bertempat di aula Pusat Studi Bahasa Jepang (PSBJ), Fakultas Ilmu Budaya, Unpad, Jatinangor, diskusi tersebut menghadirkan Wenri Wanhar dan Agus Noor sebagai pembicara, serta dimoderatori oleh Kepala Departemen Ideologi Annisa Luthfiani.

Para pembicara diminta membahas karya mereka yang merekam gerakan sosial ‘98, yakni novel Lelaki di Tengah Hujan karya Wenri Wanhar dan kumpulan cerpen (kumcer) Bapak Presiden yang Terhormat karya Agus Noor.

Dihadiri sekitar seratus orang, acara berlangsung lancar selama hampir dua jam. Pembicaraan berkembang seputar proses kreatif serta resepsi penulis terhadap kondisi sosial-politik Orde Baru yang melatarinya.

Di Bawah Cengkeram sebuah Rezim

Novel Lelaki di Tengah Hujan disejajarkan dengan kumcer Bapak Presiden yang Terhormat karena kesamaan proyeksi peristiwa sejarah pada masa Orde Baru.

Sebelum dibukukan pada tahun 2000, Bapak Presiden yang Terhormat dimuat di beberapa surat kabar. Agus Noor mengaku, cerpen-cerpen itu ditulis pada rentang tahun yang diawasi ketat Orde Baru.

“Waktu itu, kata ‘presiden’ seperti ‘sakral’ banget. Semua karya seni yang nyindir-nyindir presiden langsung kena blacklist,” kenangnya.

Cerpen Bapak Presiden yang Terhormat pun tak lulus sensor, sempat ganti judul menjadi Peang. Agus Noor mengaku beberapa proyek teaternya juga turut jadi “korban jegal” pihak kepolisian saat itu.

Kegelisahan melihat tabiat represif rezim Soeharto, serta keinginan menyampaikan atau berbagi kegelisahan itu kepada publik luas, bagi Agus Noor, menjadi motif penulisan kumcer Bapak Presiden yang Terhormat.

Tak jauh beda, Wenri juga berbagi cerita mengenai tampang sangar Orde Baru, sebuah rezim yang menurutnya dijalankan dengan rumus: otoriter-kapitalis-militeristis.

“Dulu, sewaktu kecil di Krinci, bahkan di hutan jauh dari kota, kalau bicara Soeharto itu bisik-bisik, seolah pohon-pohon itu punya kuping […] rezim yang menakutkan,” terang Wenri.



Novel Lelaki di Tengah Hujan mulai ditulis Wenri sekitar awal tahun 1999. Novel yang dilabeli “novel sejarah” ini mencuplik perjuangan sejumlah anak muda yang turut dalam pergolakan meruntuhkan kekuasaan Orde Baru.

Sebagai gerakan sosial, sebuah perlawanan berlangsung bukan tanpa sebab. Menurut Wenri, ada semacam gerakan bawah tanah; kaum muda yang berjejaring serta menyebar lewat beragam bentuk kegiatan.

“Orang-orang ini bergerak, sayup-sayup di bawah tanah, berjejaring, lalu meledaklah” ujar Wenri.

Kisah-kisah senyap tentang gerakan di bawah tanah inilah yang menjadi kerangka naratif novel Lelaki di Tengah Hujan. Dalam proses kreatifnya, Wenri melakukan penelusuran langsung untuk mengumpulkan data-data faktual.

Sebagai novel sejarah, Lelaki di Tengah Hujan bukan semata karangan penulisnya, tapi bersumber pada fakta-fakta sejarah.

Kumcer Bapak Presiden yang Terhormat dan novel Lelaki di Tengah Hujan selain merefleksikan sebuah peristiwa sejarah, juga menjadi respons penulis terhadap realitas sosial-politik yang dihadapinya.

Memeriksa Watak Kekuasaan

Bagi Agus Noor, watak kekuasaan selalu sama; ia senantiasa berupaya dengan segala cara mempertahankan kekuasaannya, kalau perlu dengan darah atau nyawa sekalipun.

Ketika menulis kumcer Bapak Presiden yang Terhormat, sang penulis merasa berada dalam situasi orde yang absurd, represif, sistem politik yang gemar memproduksi ketakutan.

“Pada saat itu saya merasakan hidup pada situasi yang absurd, yang represif, sistem politik membuat ketakutan, kehilangan pegangan nilai-nilai, moralitas runtuh, dan kita tidak bisa cepat menemukan keberanian,” terangnya.

Nahasnya, kondisi hari ini dinilainya tengah merangkak kembali pada watak yang lama.

“Hari-hari ini kok semakin menuju ke Orde Baru, ya, situasinya. Jadi, saya senang tema ‘98 ini dibicarakan lagi hari ini,” ujar Agus Noor.

Agus Noor memberi sinyal kuat tentang pentingnya membaca sastra dan belajar sejarah agar lebih mawas ketika berhadapan dengan kondisi dewasa ini.

“Dulu mantra ajaibnya pembangunan, sekarang infrastruktur […] siapa menghalangi jalan, akan digebuk, akan digigit. Menurut saya ini bahaya. Akan ada dominasi kebenaran, dominasi cara berpikir,” ungkap Agus Noor.

Jika tidak dicermati dan dikritisi, menurutnya, hal tersebut akan mengembalikan kondisi ke era kebenaran atau tafsir tunggal yang dimonopoli oleh kekuasaan. Kekuasaan memaksakan pikirannya dengan menyumbat pikiran atau gagasan alternatif, serta membungkam kritisisme.

“Saya kira penting generasi sekarang untuk baca karya-karya yang menggambarkan tahun ‘80 agar temen-temen tidak mengalami era represi yang kami alami,”

Agus Noor berharap generasi kini tidak terlambat menyadari situasi yang “tidak beres”. Penting untuk terus menajamkan kesadaran historis.

Wenri menyinggung hal yang sama, menurutnya, menaruh perhatian pada sejarah artinya merawat akar kebangsaan. Pemahaman sejarah yang baik akan mendewasakan sebuah bangsa. Sementara kekuasaan represif, menurut Wenri, hanya akan melahirkan perlawanan yang bakal berupaya menumbangkan kekuasaan itu sendiri.

“Setiap rezim yang menindas akan melahirkan anak kandung yang melawan. Kalau berkuasa tak ingin dilawan, ya jangan menindas,” ujar Wenri.

Oleh sebab itu, bagi Wenri, masa depan hari ini bukan ditentukan oleh rezim yang berkuasa, tapi oleh anak-anak muda di generasinya.

Membaca Sastra, Sejarah, dan Merawat Kritisisme Kampus

Diskusi “Warisan Bung Sembilan Delapan” dihadiri Dr. Lina Meilinawati Rahayu, M.Hum. Selaku Kepala Prodi Sastra Indonesia, ia menyambut hangat acara tersebut.

Menurutnya, diskusi semacam itu berguna sebagai upaya memahami sejarah dari perspektif lain melalui karya sastra.

“Kita bisa mendengar cara pandang orang tentang sesuatu, memahami sejarah dari sisi yang lain, bukan hanya dari buku sejarah yang ditulis oleh penguasa,” ungkapnya saat memberi sambutan di muka diskusi.

Lebih lanjut Lina berpendapat bahwa karya sastra kerap merepresentasikan peristiwa penting, karenanya karya sastra memang bisa dijadikan sarana alternatif untuk membaca sejarah.

Semangat inilah yang hadir sebagai motif diskusi di pekan lalu. Secara lugas hal tersebut disampaikan pula oleh Annisa Luthfiani dalam sambutannya sebagai moderator.

“Meskipun dua dekade telah terlewati, bukan berarti jejak sejarah pahit itu dengan mudah terlupakan. Masih banyak luka yang membekas, masih ada sistem bobrok yang berkelanjutan hingga saat ini, dan masih banyak trauma yang menghantui” jelasnya.



Dalam hal ini, salah satu media yang dianggap dapat membantu memahami gambaran masa Orde Baru adalah karya sastra. Melalui karya sastra, seorang pembaca dapat melihat bagaimana rekam jejak sejarah pada Orde Baru; gambaran peristiwa, psikologis, atau dinamika dan konflik.

Menurut Agus Noor, diskusi pekan lalu menjadi tanda adanya kesadaran historis dan keberpihakan politis yang tumbuh di antara anak muda saat ini, menjadi semacam penyangkalan asumsi publik yang menganggap mereka sebagai generasi yang apolitis, apatis.

“Ini mengingatkan tumbuhnya kesadaran politik pada generasi 80-an. Ini merupakan cahaya cerah bagi tradisi dan kritisisme di kampus,” ujar Agus Noor kepada Talamedia.

Bila kondisi semacam ini dapat semakin diruncingkan, dengan optimis Agus Noor menilai, akan tumbuh satu generasi yang lebih kritis. Satu generasi yang akan menentukan gagasan dan arah mereka sendiri.

Di sisi lain, ide-ide perubahan, gagasan-gagasan sosial tengah disemai. Karya sastra adalah satu media semai kesadaran tersebut.

“Sastra selalu menginspirasi orang untuk melakukan kesadaran dirinya. Sastra bermain pada gagasan. Gagasan dalam sastra inilah yang dapat memengaruhi atau mengubah cara berpikir orang,” ungkap Agus Noor.

Kesadaran semacam ini tumbuh di banyak tempat, meski menurut Agus Noor, barangkali belum terkoneksi, belum secara utuh membentuk jejaring soliditas dan solidaritas yang kuat. Namun, ia melanjutkan, sebuah ide akan ditemukan dan ditautkan dengan ide-ide lainnya. Dan saat itulah mungkin sebuah gerakan sosial akan terjadi.

“Sebagai sebuah ide, seperti kita menabur gagasan atau benih, kita mungkin tidak tahu di mana ia akan tumbuh. Ketika dia ketemu tanah yang bagus dia akan tumbuh. Ini adalah proses,” pungkas Agus Noor.

Sementara di paruh acara, Wenri seakan terantuk ketika menyadari bahwa diskusi tersebut bertepatan tanggal dengan peristiwa pemberontakan antikolonial pada warsa 1926 silam.

“Pemberontakan itu dilakukan oleh kaum yang kita sebut kaum nasionalis generasi awal. Mereka kemudian dipatahkan gerakannya, lalu dibuang ke Digul,” ujar Wenri.

Ia menaruh percaya bahwa “Warisan Bung Sembilan Delapan” merupakan iktikad baik dari suatu generasi yang disulut oleh kesadaran politis dan historis yang timbul secara organik akibat gejolak zamannya.

(muh)